Rezeki Allah Selalu Cukup



🍃 Antara Hidup & Gaya Hidup 🍃

Gaya hidup mewah dan boros membuat pelakunya sulit untuk berbuat kebajikan dan melakukan kedermawanan. Bermewah-mewah dan hura-hura memenuhi ruang hatinya. Mengisi pola pikirnya. Ia hanya berpikir bagaimana memenuhi keinginannya. Dalam hal makanan, pakaian, kendaraan, dan properti. Gaya hidup mewah dan boros membuat seseorang menjadi pelit.

Syariat tidak melarang kita mencari harta, menginvestasikannya, dan menyimpannya. Bahkan syariat mendorong hal itu. Namun syariat melarang memperoleh dan mengelurkan harta pada jalan-jalan yang haram.

Perhatikanlah nasihat dari sahabat yang mulia Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ini.

Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan,

الخَرَقُ فِي الْمَعِيشَةِ أَخْوَفُ عِنْدِي عَلَيْكُم مِنَ العَوَزِ، وَلا يَقِلُّ شَيْءٌ مَعَ الصْلاحِ، ولا يَبْقَى شَيْءٌ مَعَ الْفَسَاد .
“Gaya hidup boros lebih aku kawatirkan akan menimpa kalian dibanding kemiskinan. Ketahuilah bahwa harta yang sedikit tidak mungkin habis bila engkau pandai mengelolanya. Namun sebaliknya, sebanyak apapun harta kekayaanmu pasti akan segera habis bila engkau salah membelanjakannya.” Agama kita mengajarkan agar kita merasa kecukupan terhadap sesuatu. Bukan malah selalu merasa kekurangan. Sehingga umat Islam tidak menjadi seorang hamba dinar dan dirham. Jangan meremehkan sesuatu yang sedikit, karena hal ini akan menyeret kita pada kebiasaan meremehkan yang banyak. Dan barangsiapa meremehkan yang sedikit, lama-kelamaan mereka akan meremehkan yang banyak. Sehingga ia terus-menerus tidak pernah merasa cukup. Yang ia dapat hanya kehinaan di dunia dan akhirat.

Alangkah rugi dan celakanya seseorang yang mendapat nikmat yang banyak dan hidup yang lapang, akan tetapi ia sombong dan tenggelam dalam urusan keinginan syahwat dan nafsunya.
.

Komentar

Visitor

Online

Related Post